Dalam upaya menghadapi tantangan perubahan iklim yang ekstrem, inovasi dalam teknik budidaya menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas produksi pangan nasional. Tanam Maju secara konsisten melakukan riset efektivitas terhadap berbagai material pendukung pertanian yang ramah lingkungan guna menggantikan penggunaan plastik sekali pakai di lahan pertanian. Sebagai bagian dari komitmen kami terhadap keberlanjutan, kami juga terus mendorong penggunaan herbisida alami yang terbukti efektif menekan pertumbuhan gulma tanpa merusak mikroorganisme tanah yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman secara organik dan berkelanjutan.
Fokus utama penelitian kali ini adalah penggunaan mulsa kertas yang bersifat biodegradable sebagai alternatif penutup tanah. Berbeda dengan mulsa plastik konvensional yang meninggalkan residu mikroplastik berbahaya, mulsa berbasis serat selulosa ini dapat terurai secara alami dan menyatu dengan tanah setelah masa panen berakhir. Efektivitas material ini diuji pada berbagai jenis tanaman hortikultura untuk melihat sejauh mana ia mampu melindungi struktur tanah dari erosi akibat siraman air hujan yang keras serta mencegah penguapan air yang berlebihan saat cuaca terik melanda area persawahan.
Hasil pengamatan menunjukkan pengaruh yang sangat signifikan terhadap kelembapan tanah di area yang menggunakan mulsa kertas. Material ini memiliki kemampuan bernapas (breathability) yang lebih baik dibandingkan plastik, sehingga suhu tanah tetap stabil dan tidak mengalami panas berlebih yang dapat merusak akar halus. Stabilitas kelembapan ini sangat krusial bagi aktivitas organisme tanah seperti cacing dan bakteri pengurai yang membantu ketersediaan nutrisi. Dengan tanah yang tetap lembap dan sejuk, kebutuhan air untuk irigasi dapat ditekan hingga 30%, menjadikannya solusi cerdas untuk pertanian di wilayah yang sering mengalami kendala kekurangan sumber daya air.
Selain menjaga air, mulsa biodegradable ini juga berperan sebagai penghalang fisik bagi pertumbuhan gulma. Sinar matahari yang terhalang oleh lapisan kertas membuat biji rumput liar kesulitan untuk berkecambah, sehingga kompetisi nutrisi antara tanaman utama dan gulma dapat diminimalisir. Setelah hancur, kertas ini berubah menjadi bahan organik tambahan yang meningkatkan kadar karbon dalam tanah. Tanam Maju melihat bahwa meskipun biaya awal mungkin sedikit lebih tinggi dibandingkan plastik, penghematan dari sisi tenaga kerja untuk pencabutan rumput dan pembersihan sisa mulsa plastik memberikan keuntungan ekonomi yang lebih besar bagi petani dalam jangka panjang.