Ketahanan pangan nasional sangat bergantung pada kualitas pondasi awal pertanian, yaitu benih. Menghadapi tantangan perubahan iklim yang ekstrem dan ketidakpastian cuaca, startup agritech Tanam Maju mengambil langkah strategis dengan menggandeng raksasa industri sains hayati, Bayer Indonesia. Kolaborasi ini difokuskan pada pengembangan dan uji coba varietas padi resilien yang dirancang khusus untuk mampu bertahan di tengah kondisi lingkungan yang tidak menentu. Penggunaan benih unggul ini diharapkan menjadi solusi bagi para petani lokal yang sering kali mengalami gagal panen akibat kekeringan panjang maupun banjir mendadak.
Padi merupakan komoditas paling vital di Indonesia, namun produktivitasnya sering kali terhambat oleh serangan hama dan anomali iklim. Melalui riset bersama, Tanam Maju dan Bayer Indonesia mencoba menghadirkan varietas yang memiliki ketahanan ganda (multitolerance). Varietas ini tidak hanya tahan terhadap genangan air dalam waktu lama, tetapi juga memiliki sistem perakaran yang lebih dalam untuk mencari sumber air saat musim kemarau tiba. Teknologi pemuliaan benih yang dibawa oleh Bayer Indonesia memastikan bahwa setiap bulir padi yang dihasilkan memiliki potensi hasil yang maksimal tanpa memerlukan input kimia yang berlebihan.
Proses uji coba dilakukan di beberapa titik demplot (lahan percontohan) milik Tanam Maju yang tersebar di wilayah Jawa dan Sumatera. Di lahan-lahan ini, performa padi dipantau secara ketat menggunakan sensor digital untuk melihat kecepatan pertumbuhan dan ketahanannya terhadap penyakit blast yang sering menyerang tanaman padi. Hasil sementara menunjukkan bahwa varietas resilien ini mampu memberikan hasil panen 20% lebih tinggi dibandingkan varietas konvensional pada kondisi lahan yang kurang ideal. Keberhasilan ini memberikan angin segar bagi upaya pemerintah dalam menjaga kedaulatan pangan nasional.
Pentingnya edukasi kepada petani menjadi pilar kedua dalam kerja sama ini. Benih yang bagus tidak akan memberikan hasil maksimal tanpa teknik budidaya yang tepat. Tanam Maju dan Bayer Indonesia secara rutin mengadakan sekolah lapang untuk melatih petani mengenai manajemen nutrisi dan pengendalian hama terpadu. Petani diajarkan bahwa investasi pada benih unggul di awal musim tanam adalah langkah efisiensi jangka panjang, karena dapat mengurangi biaya pembelian pestisida dan risiko kerugian total akibat serangan penyakit tanaman.
Selain aspek ketahanan, kualitas rasa dan nutrisi juga menjadi fokus dalam pengembangan varietas ini. Padi resilien yang dikembangkan diharapkan memiliki tekstur nasi yang sesuai dengan selera masyarakat Indonesia, yakni pulen dan beraroma harum. Tanam Maju menyadari bahwa daya terima pasar sangat ditentukan oleh kualitas akhir produk. Dengan memastikan bahwa benih ini menghasilkan beras premium, petani akan memiliki posisi tawar yang lebih kuat saat menjual hasil panennya ke pengepul maupun langsung ke konsumen melalui platform digital.